Jumat, 15 Juni 2012

Peran dan Fungsi Manusia


Dalam Al-Quran terdapat banyak terma yang menyebutkan tentang manusia. Ada yang diungkapkan dalam bentuk mufrad dan ada juga yang diungkapkan dalam bentuk jamak. Terma tersebut adalah insan  an-nas, basyar dan bani Adam. Secara umum, terma tersebut memiliki makna yang sama yaitu merujuk pada makna manusia. Akan tetapi, secara khusus terma tersebut memiliki penekanan makna yang berbeda.
Sebagaimana diketahui bahwa, Al-Quran menegaskan kualitas dan nilai manusia dengan menggunakan tiga macam istilah yang satu sama lain saling berhubungan, yakni al-insan, al-basyar dan Bani Adam. Mansuia disebut al-insan karena dia sering menjadi pelupa sehingga diperlukan teguran dan peringatan. Manusia disebut dengan al-basyar, karena dia cenderung perasa dan emosional sehingga perlu disabarkan dan didamaikan. Manusia disebut sebagai bani Adam, karena dia menunjukkan pada asal-usul manusia yang bermula dari Nabi Adam as sehingga dia bisa tahu dan sadar akan jati dirinya. Misalnya, dari mana dia berasal-usul, untuk apa dia hidup, dan harus kemana dia kembali.[1]
Dalam referensi lain disebutkan manusia berasal dari kata insani yang berasal dari kata bahasa Arab. Insan berasal dari akar kata Anisa – Ya’nasu – Ansan, artinya : ramah, mesra, berpuas hati. Dari Hadits Nabi Muhammad SAW kita akan mengetahui  tentang sifat insan, yang sering lupa dan salah, sehingga manusia dibebaskan dari hukum apabila ia melakukan pelanggaran karena tidak sengaja dan karena lupa.
إِنَّ اللهَ وَضَعَ عَنْ اُمَّتِيْ الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتَكْرِهُوْا عَلَيْهِ (رَوَاهُ الطَّبْرَانِى وَابْنُ حِبَّانِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ)
Artinya : “Sesungguhnya Allah mengenyampingkan hukum dari umatku terhadap sesuatu yang dilakukannya karena tersalah (tidak sengaja) dan lupa dan juga yang karena terpaksa”. (HR. Al-Thabarani dan Ibnu Hibban dari Ibnu Abbas)[2]
Manusia merupakan makhluk yang diciptakan paling sempurna oleh Tuhan. Dia pun mempunyai kedudukan yang tinggi dibandingkan dengan makhluk lain di alam ini. Manusia diberi kekuasaan oleh Tuhan untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Hal tersebut menunjukkan bahwa manusia mempunyai kehormatan yang lebih dibandingkan dengan malaikat sekalipun.
Manusia hakikatnya mempunyai dua fungsi ketika menjalankan hidupnya di dunia. Pertama, manusia diciptakan Tuhan diperintahkan untuk beribadah kepada-Nya. Sebagaimana Allah berfirman :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ. (الذاريات : 56)
Artinya : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku”. (QS. Adz-Dzariyat : 56)
Ibadah di dalam terminologi Islam adalah kepatuhan kepada Tuhan yang didorong oleh rasa kekaguman dan ketakutan. Jadi tahap paling awal ibadah adalah kepatuhan kepada Allah yang didorong rasa kekaguman dan ketakutan[3].
Beribadah kepada Allah merupakan tugas pokok manusia bahkan satu-satunya tugas dalam kehidupan manusia sehingga apa pun yg dilakukan oleh manusia dan sebagai apa pun dia seharusnya dijalani dalam kerangka ibadah. Dalam al-Qur'an surat al-Baqarah ayat 21, Allah memerintahkan manusia untuk beribadah, sebagai berikut :
يَآأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ. (البقرة : 21)
Artinya : "Hai manusia, beribadahlah kamu kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelummu, agar kamu bertaqwa". (QS. Al-Baqarah : 21)
Allah swt mengundang hambanya agar bertakwa kepada-Nya dengan cara menakut-nakuti (yukhawwif) hamba-hamba yang diundang-Nya (QS. Al-Zumar:16). Rasa takut itu teralamatkan ke lubuk hati hamba-Nya yang paling dalam (qalb) sebagai mutiara yang tersimpan, besar nilainya. Namun, banyak dari hamba-Nya yang tidak mengetahui keberadaan mutiara itu ketika masih hidup di dunia. Inilah cinta kasih Tuhan yang tersimpan dan manisnya belum dapat dirasakan[4].
Seseorang yang telah mencapai ketakwaan dia akan beribadah dengan nikmat, seakan-akan dia sangat dekat dengan Tuhannya. Dalam menjalankan kehidupannya dia akan merasa tenang dan mampu mengatasi hal yang merintanginya dengan tenang dan sabar.
Hamba Allah yang beriman diperintahkan untuk selalu bertakwa dan bersabar. Merekalah kelompok orang yang mendapat kebaikan dan pahal tanpa balas (ajr bighair hisaab) (QS. Al-Zumar:10). Hamba Allah yang melampaui batas (musrif) sungguh tidak dibenarkan untuk tidak mau bertaubat lantaran dosa-dosa yang dia lakukan menurut penilaiannya sangat banyak. Manusia tidak mengukur sesuatu yang gaib, termasuk dosa, pahala, keimanan, dan sebagainya. Jadi, yang penting menurut pandangan Allah adalah agar manusia tidak pernah lepas dari anggapan bahwa rahmat Allah dan keluasan rahmat tersebut menandingi tumpukan dosa yang dilakukan oleh makhluk seisi bumi[5].
Kedua, manusia diberi kepercayaan oleh Allah untuk menjadi khalifah di bumi. Maududi menyebutkan, “Setiap mukmin adalah khalifah Tuhan sesuai dengan kemampuan individunya. Dengan demikian, dia secara individu bertanggungjawab kepada Tuhan[6].
Kata khalifah berakar dari kata khalafa yang mempunyai tiga arti dasar: mengganti, belakang, dan perubahan. Yang dikaji di sini adalah artinya sebagai “pengganti”. Tugas kekhalifahan sebagai pengganti adalah melaksanakan aturan-aturan yang dikehendaki oleh Allah swt. Sebagai konsekuensi logis dari pelaksanaan aturan-aturan tersebut adalah membuat aturan al-tasyri’, melaksanakan aturan al-tanfiz dan mengontrol serta mengevaluasi aturan al-tahfiz[7].
Manusia dengan kapasitasnya yang serba terbatas (makhluk) dan dengan instrument hidup yang serba canggih dibanding dengan makhluk Tuhan yang lain dijadikan oleh Allah swt., sebagai makhluk pilihan, yaitu sebagai khalifah di muka bumi (Q.S. Al-Baqarah : 30). Ia mendapat amanah untuk mengurus bumi dan segala isinya juga mengatur makhluk-makhluk Tuhan lainnya yang sangat beraneka ragam[8].
Untuk bisa menjalankan fungsi khalifah manusia harus menegakkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan serta menyiarkan kebaikan dan kemaslahatan ini merupakan perkara yang sangat mendasar untuk bisa diterapkan. Tanpa kebenaran dan keadilan serta kebaikan dan kemaslahatan tidak mungkin tatanan kehidupan umat manusia bisa diwujudkan karenanya ini menjadi persyaratan utama bagi manusia untuk menjalankan fungsi khalifah pada dirinya.


[1] Umar Shihab, Kontekstualitas Al-Quran Kajian Tematik Atas Ayat-Ayat Hukum dalam Al-Quran, (Jakarta : Permadani, 2005), hal 106-107
[2] Abu Ahmadi & Noor Salimi, MKDU Dasar-Dasar Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan Tinggi, (Jakarta : Bumi Aksara, 2008), hal 39
[3] Muhammad Tholchah Hasan, DinamikaKehidupan Religius, (Jakarta : PT Listafariska Putra, 2004) hal 1
[4] Rafy Sapuri, Psikologi Islam Tuntutan Jiwa Manusia Modern, (Jakarta : PT Rajagrafindo Persada, 2009) hal 177
[5] Rafy Sapuri, Psikologi Islam Tuntutan Jiwa Manusia Modern, (Jakarta : PT Rajagrafindo Persada, 2009) hal 180
[6] Nanat Fatah Natsir dan Mulyana, Yahudi versus Islam. Konflik Agama dan Politik, (Bandung : Sega Arsy, 2010), hal 187
[7] Umar Shihab, Kontekstualitas Al-Quran Kajian Tematik Atas Ayat-Ayat Hukum dalam Al-Quran, (Jakarta : Permadani, 2005), hal 301
[8] Rafy Sapuri, Psikologi Islam Tuntutan Jiwa Manusia Modern, (Jakarta : PT Rajagrafindo Persada, 2009) hal 97

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar